Kamis, 04 November 2010

stop complaining...

uda 2 hari ini mas aris g masuk kerja..dya yg slalu aku repotin dgn surat2ku yg se-gambreng2 itu lagi-lagi gak masuk..lagi-lagi gak ada yg bisa handle kerjaan dya..lagi-lagi aku musti mengerjakan kerjaan dya...yg artinya tambahan pekerjaan untukku...sialnya ini terjadi justru saat surat2ku jg lg rame bgt...buanyak bgt surat yg musti aku bikin dan aku kirim...sepanjang pagi aku merepet terus..kondisi hari pertama haid makin bikin mood gak nyaman..
siangnya..lagi-lagi aku musti berurusan dgn surat2 itu..bertambah dan bertambah terus....dengan kesal aku muntahkan keluh kesalku pada mb lisa yg slalu nampak bersemangat saat membawa tumpukan itu ke mejaku...aku bilang 'kenapa sih smua surat keluar hari ini?? mana mas aris pas gak masuk lagi...jd kudu ngetik sendiri...uhhhh' sungutku sambil menerima surat2 itu...
dgn senyum dya bilang 'aku jg ngetik sendiri...tp aku gak ngeluh ik, hehehehe...' sahutnya sambil cengar-cengir..
wuah!! aku tertohok!! tanpa kusadari..aku uda membuat kondisinya jd buruk dgn terus2an mengeluh...
hmmmmm....jd inget 1 artikel bagus...
http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/jangan-jadi-miss-komplain.html

ayo...stop complaining....just doing right...^^

Rabu, 03 November 2010

bersemangat yuzz...

very good morning yuzzy....wish u all dbest yaaaaaaahh...
hari ini buanyak pengennyaaa...
-pengen minta ttd abstraksi
-pengen ke pengajaran minta list syarat2 daftar sidang *yg entah knp yg dulu itu menghilang, hahahaha...g betah kali dya nungguin aku klamaen :P
-pengen ngurus bebas perpus dkk
-pengen...eh pengen apa lg yah?? hahahahaha...mendadak amnesiaaaaaaaa...
-pengen mumpet ajaaaaaaa...do not even care about the others :P

yuk..ayukkk...bersemangat yah yuz...pasti bisa, kudu bisaaaaaaaaa...
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM....MAN JADDA WA JADDA... ^^


luv u yuzz...

Minggu, 24 Oktober 2010

memaksa..

seringkali..kita musti rela menerima kenyataan bahwa kita gak bisa memaksakan bahkan hal sepele kpd orang lain..

kayak sekarang ini. aku cm pengen menyampaikan opiniku, meski terindikasi mngintervensi, tp nyatanya emang g slalu bs. hff...kadang cm pengen mengajak melihat sesuatu dr sisi yg laen. knp hampir slalu g berterima?? jgn2 ada yg salah dgnku? oke, kuakui aku emang bs dibilang alergi kritik, aku g suka ada yg sok tw ngasih tw ini itu. mgkn itu yg berbalik membuatku susah mengajak orang lain melihat sesuatu dr cara pandangku..

so?? what should i do then??

Sabtu, 23 Oktober 2010

prolog..

maaaaass..tungguuuu..
hehehe...hosh..hosh..makasi yah...

owhh...suaranyaa..serupa desahan yang mengajak pikiranku melayang-layang. aku makin bingung menguasai diri berdua saja di lift bersamanya. shit!! ini kenapa lift jd beringsut bgitu pelan?? lihatlah..aku sudah bermandi peluh menahan sgala pikiran nakal yg tiba-tiba berkeliaran seenaknya saja.

mas, di lantai 21 yah ternyata?? di bagian apa mas?? saya kadang maen ke lantai 21 jg loh...kok gak pernah liat mas ya...
hehe..iya, saya baru mbak. baru sebulan ini saya pindah ke sini.

oohh..God..tentu saja dia gak bakalan liat aku, aku slalu saja menderita nervous hebat tiap kali melihatnya hingga aku slalu memilih untuk menghindarinya daripada tau-tau aku jatuh pingsan..hahahahaha...kau tau,dlm sebulan ini saja aku sudah mampu mengumpulkan smua informasi tentangnya. dari identitas umum sampe kisah hidupnya yang menakjubkan itu.

tinggggg...
eh mas, bengong aja, hahahaha...saya duluan yah..
eh oh.. iya mbak..ati2 ya..
hahahaha...iya mas, see u..

fiuuuhh....smoga bsk aku bs lebih beradab menghadapinya...hehehhe...

Minggu, 17 Oktober 2010

n.t.

hmmmm...gemes!!
aku ternyata masi orang yg sama yg blm bs membiarkan orang lain, bahkan bila itu teman dekat skalipun, melakukan hal-hal yg mereka senang sekaligus menyakitiku. aku tw, g slalu mreka berniat melakukan itu dgn sadar, krn seringkali kita pun melakukan hal-hal secara spontan tanpa menyadari efeknya pd orang lain.
ktika aku memutuskan untuk mundur, menarik diri dari dunianya, seharusnya memang aku tak lagi menaruh perhatian pd crita mreka.
hei...apa aku kurang kerjaan?? seharusnya sih gak. blm daftar sidang, blm ngedit poto2 project kmaren, blajar photosop, blm lg buku2 yg setia nungguin aku. aku seharusnya kelebihan kerjaan, apalagi klo niat bisnis itu aku seriusi. tp knp masi aja memberi waktu pd hal-hal gak perlu itu.
aku cm jengkel melihat mreka seolah tertawa mengejekku. aku benci kalah. aku gak mau disaingi. aku gak mau dianggap bodoh. aku benci ditertawai.
hfffffffffffffffff...

Relationship is not about how much love you have in the beginning but how much love you build till the end...

Unta
Minggu, 17 Oktober 2010 | 04:02 WIB

SAMUEL MULIA


Baru saja selesai mengobrol dengan seorang teman mengenai keputusan dirinya untuk berhenti pacaran, eh…datang sebuah pesan di BB. Pesan yang dengan rajinnya dikirimkan seorang asisten perancang mode yang buat saya seperti penyambung suara Sang Khalik. Karena setiap saat ia mengirim pesan, yaa…kok pesannya itu selalu tepat dengan situasi yang sedang dihadapi. Bunyi pesannya begini. Relationship is not about how much love you have in the beginning but how much love you build till the end.

Gagal jadi pacar

Mengapa teman saya ingin berhenti pacaran? Karena ia tak mencintai pasangannya lagi. Ia merasa bosan dengan cara mereka berkomunikasi, dengan cara menjalani masa percintaan itu. Menurutnya, mereka sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencari jalan keluarnya, tetapi tak menjanjikan apa-apa.

Sekarang saya mengerti mengapa ada manusia kemudian bercerai. Kebosanan akan melihat perilaku pasangan, menimbulkan keberanian untuk berhenti mencintai, karena cinta yang awal itu makin lama makin berkurang. Terkikis habis bersama jalannya waktu melihat pasangan yang sama sekali tak menggairahkan lagi.

Dulu, saya pikir orang itu kalau sudah mencintai pada awalnya, akan berakhir sampai mati. Mengapa saya berpikir demikian, karena saya melihat perjalanan perkawinan orangtua saya, dan beberapa orangtua teman-teman saya yang usianya sudah di atas enam puluh tahun. Yang suaminya sudah berselingkuh saja di masa tuanya, bahkan menyimpan selingkuhannya secara nyata-nyata, masih tetap tak bercerai.

Waktu itu saya berpikir apakah mungkin orangtua kami yang mendapat pendidikan di zaman dahulu yang katanya keras itu, dicekoki sedemikian rupa bahwa sekali menikah itu untuk selamanya. Suka atau tidak suka, cinta atau kemudian tidak cinta lagi, mulutnya ditutup saja.

Terutama untuk kaum wanitanya. Maka perkawinan itu tetap langgeng dengan melahirkan anak, cucu, cicit, buyut, meski cinta tak perlu didiskusikan atau dipermasalahkan. Yang penting langgeng. Rasa bosan itu bisa ditutupi kalau kebetulan pasangannya kaya raya, dibelikan tas termahal di dunia, berlian segepok, dan mungkin juga rumah baru sekian hektar lagi.

Jadi teman?

Kemudian saat teman saya mengajukan bahwa hubungan itu harus berhenti, maka hal pertama yang keluar dari mulut pasangannya adalah ”Kamu jatuh cinta sama orang lain, ya?” Saya tak meneruskan diskusi itu. Bingung soalnya. Yang membuat bingung adalah mengapa selalu yang pertama disodorkan adalah alasan dari pihak luar, lha wong masalahnya dari dalam?

Mengapa orang dalam itu susah sekali melihat kalau punya banyak kekurangan dan tak berani mengakui kalau sudah mampu membuat sebuah hubungan menjadi basi, kemudian loncat ke luar dan mengatakan ada orang ketiga. Seolah-olah, dunia luar itu menjadi pencetus yang utama.

Teman saya melanjutkan ceritanya, kalau akhir dari hubungan itu disepakati menjadi sebuah hubungan pertemanan. Saya yang mendengar kemudian berpikir lagi. Menjadi teman? Saya bingung lagi. Teman apaan? Saya kemudian bercerita kisah asmara saya. Waktu pertama kali saya berhadapan dengannya, itu karena obyektifnya mencari pacar, bukan teman. Kalau sekarang gagal jadi pacar, kemudian dijadikan teman, itu bukan tujuannya.

Kalau kebutuhan saya membeli sepatu, terus tak berhasil mendapatkannya, yaa…nggak berarti saya harus beli tas, hanya gara-gara kebutuhan yang utama tak terpenuhi, bukan? Jadi saya pikir adalah sebuah kekeliruan kalau setelah pacaran tak berhasil, kemudian hubungan itu dijadikan hubungan pertemanan.

Menjadi teman bukan sebuah pengganti hubungan asmara yang kandas di tengah jalan. Terus, kenapa kalau kemudian tak bisa jadi teman? Selesai saja. Apakah saya akan dihakimi sebagaimana manusia yang tidak mengampuni? Yang tak memiliki tenggang rasa?

Kalau dipikir lagi mau jadi teman apa? Lha wong selama pacaran saya tahu tabiatnya, sama seperti ia tahu tabiat saya. Jadi kalau berteman pun, bakal tak membuahkan hasil gemilang. Kalau hanya menjadi sekadar teman tanpa kualitas pertemanan yang oke, yaa…nggak apa-apa juga.

Itu pengalaman saya. Mungkin saya harus ingat akan pesan teman saya di atas, meski saya belum tentu bisa. Kalau mencintai itu tak perlu menggebu-gebu di awal, sehingga saya kehabisan bahan bakar ketika mau membangun cinta dalam sebuah perjalanan yang begitu panjangnya. Perjalanan cinta itu bukan seperti lomba lari seratus meter, tetapi seperti lari maraton.

Tuh, saya pandai, kan kalau sudah memberi nasihat. Padahal, saya sendiri gagal dalam percintaan. Mungkin selain saya harus belajar dari pelari, juga dari unta. Unta bisa hidup di gurun yang panas, saya memiliki hubungan asmara yang kadang seperti gurun. Panas dan kering. Akan tetapi, saya harus bertahan. Unta saja bisa, masak saya enggak?


sumber: http://cetak.kompas.com/read/2010/10/17/04020231/unta